Motivasi Diri

Diri sendiri dan orang lain merupakan bentuk lawan kata, dua kata yang berbeda dengan makna yang sangat jauh berbeda pula. Diri sendiri itu adalah aku, kita dan orang lain itu adalah dia, mereka, tergantung bagaimana, dimana, dan karena apa kita menggunakan kata tersebut. Pemahaman tentang ”diri” antara aku dan kita, bisa berbeda lagi, aku adalah dimana kaki ku berpijak, kita adalah dimana cita kita dijunjung. Sebelum kata “aku” itu beranjak kearah kata “kita, dia dan mereka” dimana merupakan sebuah kata yang lebih menyatu, ada baiknya kita mengenal seperti apa “aku” itu.
Aku mempunyai dua mata, dua telinga, dua buah tangan, dua buah kaki dan sama – sama diciptakan oleh sang khalik, Tuhan alam semesta, Allah SWT dan sama seperti kita , dia dan mereka. Aku hidup bernafas, memakan makanan, meminum minuman, dan sama seperti kita, dia dan mereka. Aku mempunyai beberapa alasan kepentingan tuk hidup di dunia ini bersama dia dan mereka, sama seperti yang lainnya.

Ternyata aku, kita, dia, dan mereka itu tidak jauh berbeda, lantas dimana letak perbedaan itu!. Hanya diri sendiri yang bisa menjawabnya! Apa itu?. Aku tak mungkin sama dengan yang lain karena aku adalah anak pertama dari dua bersaudra, aku tak mungkin sama dengan yang lainnya karena aku adalah seorang yamg berminuskan 3, aku tak mungkin sama dengan yang lainnya karena aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Fisika FMIPA Unpad, aku tak mungkin sama dengan yang lainnya karena golongan darah ku AB, dan aku tak mungkin sama dengan yang lainnya karena antara aku, dia dan mereka mempunyai DNA yang berbeda! Itulah yang membedakannya! Bagaimana dirimu tak bangga memunyai suatu hal yang berbeda tidak sama dengan yang lainnya terlebih dengan orang disamping mu? Tiap diri kita ternyata mempunyai karakter berbeda, apalagi tuk menulis seperti apa jadinya essay ini.

Yang perlu kalian tahu tentang aku adalah, aku orang yang tak mau tuk mengalah tuk mendapatkan hak ku, aku adalah orang yang penuh kekesalan atas ketidak puasan ku, dan karena kekesalan ku itu, dia dan mereka mengenal ku seperti sekarang ini.
Mungkin kekesalan ku itu yang harus paling bertanggung jawab atas semangat ku untuk menggali potensi ku sebagai manusia hakiki yang memiliki hubungan antar manusia dan hubungan dengan sang Pencipta. Mungkin karena kekesalan ku pada sebuah negara dimana kata “kebenaran” itu jarang ku temukan, aku berdiri disini sebagai mahasiswa sebagai peniup terompet asiprasi rakyat. Mungkin karena kekesalan ku pada rakyat jelata yang tak mau peka terhadap pemerintah sehingga mereka buta ketika dihadapkan tuk memilih pemimpin, aku ada disini tuk meneriakkan kebobrokan dan kebenaran itu.

Seperti itulah “aku”, yang termotivasi atas semua kekesalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: