Perbincangan dua generasi (part 1),

Masih di ruangan yang sama, duduk bersama dengan para geofisikawan Indonesia yang memamerkan hasil penelitiannya, entah didengar atau tidak, pasti selalu mengundang tanya banyak orang. Disebelah ada Sofyan, sama bingungnya isi kepala kami berdua dengan apa yang sebenarnya si Mas Presenter sampaikan, ketika kebanyakan orang tertawa, kami pun ikut tertawa, menertawakan kebodohan kami.

Pukul 12.05 siang, “Lunch Time”, presenter pun menyudahkan presentasinya setelah selesai beradu otot tenggorokan yang gatal, kami pun keluar karena jam perut kami sudah berbunyi, jadi lah berlari kecil tak tahu malu. Dan akhirnya yang dinanti pun datang dan selalu membahagiakan ketika melihat banyak makanan dan selalu menyenangkan ketika bisa mengambil semaunya, perut kosong.

Seonggok nasi, daging sapi dan cumi, langsung mengambil alih kursi dan tersenyum kecil melihat banyaknya makanan yang ada diatas piring ku, dasar mahasiswa kere.

“Kosong mas”, tanya seorang bapak yang ingin duduk disamping kursi ku.

“Silahkan pak, monggo”, jawab ku dengan logat medok.

“Waduh, banyak juga mas makannya”, kaget.

“Maklum pak masih masa pertumbuhan”, senyum ku alih – alih tak mau disalahkan jika peserta lain tak kebagian makanan.

“Saya tuh heran ngeliat orang berpakaian rapih bawa mobil bagus”, membuka pembicaraan dengan raut muka yang rada kesal.

“Loh,,iya pak? bukannya bagus pak?”, terhenyak kaget serasa ditodong, menghentikan frekuensi kunyahan makanan dan menjawab dengan sejuta keluguan yang tersisa.

“Gini aja dek, kita ini ilmuwan, kita meneliti dan kita punya data yang bisa di pertangungjawabkan, lah terus kalo data itu dijual, duitnya buat siapa?”, sambil melanjutkan memakanan makanannya.

“Ya buat kita pak, kan kita sudah bersusah payah melakukan penilitian dan uang itu pantas untuk kita atas jerih payah kita”, jawaban yang masih berada dalam lingkar lugu

“Apa iya pantas? Secara sadar atau ga kita tuh udah ngacak – ngacak negara kita sendiri”, sambil melotot dan terlihat jelas wajahnya, dengan rambut pendek, diperjantan dengan kumis dan jenggot tipis dan diwarnai dengan kilaunya uban. Aku pun hanya bisa menatap matanya, sekali lagi dengan tampang lugu itu.

“Mas tahu ambalat gmn sekarang sama Malaysia? Sekarang kita tahu klo sekarang tenang – tenang aja, tapi tahu ga klo Malaysia itu udah nyedotminyak itu, tapi bukan dari laut. Saya itu kesel sama birokrat yang cuma bisa diem aja, padahal klo tiap kali saya mantau kesana pengen saya sumpel tuh minyak biar ga bisa disedot sama Malaysia, iya toh?”, pembicaraan dalam kalimat yang panjang yang membuatnya berkali – kali menunda suapan makanan dalam sendoknya.

“Oh..gitu ya pak? memangnya bapak kerja dimana?”, mengalihkan perbincangan karena tak mengerti maksudnya apa dan melanjutkan suapan nasi.

“Saya kerja di Pertamina dek, saya dulu itu bodo ga ngerti apa – apa, lulus SMA dua tahun nganggur, begitu ada lowongan di Pertamina saya langsung tes, pas diterima saya langsung ikut bos keliling laut kesana – kemari. Saya ini duduk deket adek karena paling sederhana, jadi generasi muda ya jangan dicontohlah tingkah kebanyakan orang itu yang selalu memamerkan uangnya, bawa mobil macam Hammer tapi di lampu merah masih ada anak kecil yang kencrang – kencreng ngamen, apa iya Indonesia kyak begitu, jangan bangga dulu jadi orang Indonesia kalo masih ada orang miskin”, kembali lagi ia berbicara dalam tatapan yang serius dengan jarak hampir 15 cm dari muka ku, seperti ditantang, dan jurus ampuh ku untuk mengalihkan pembicaraan ternyata tak mempan padanya.

“Iya pak, insya Allah, bapak bantu dukung ya..”, jawab ku dengan nada cukup pesimis.

“Adek udah S berapa?”, tanyanya seraya membuat perbincangan menjadi ringan.

“Loh..ini aja belum S1 pak?”, terheran maksudnya apa.

“Bagus toh?! ntar klo lulus mau ngelanjutin dimana? Perancis? Belji (Belgia)? New Zealand? Sekolah itu harus tinggi dek biar bikin bangga Indonesia, tapi harus balik lagi kesini jangan sampe ditarik ke luar sana, wong dulu itu jadi guru aja udah bisa bikin bangga kalo sekarang harus lebih. Nanti kalo lama di luar terus punya bojo dari sana jangan mau tinggal di negrinya, bawa bojo mu itu kesini, biar orang lain liat”, pembicaraan yang semakin menggugah hati dan curiga akan mengarah ke arah yang lain dan aku pun hanya bisa tersenyum berpura – pura tak tahu apa – apa.

“Adek nyari istri yang kayak gimana?”, tanyanya layak seorang wartawan.

“Ya…yang kayak gitu pak, gimana ya? bingung pak”, kaget, dan ternyata benar arah pembicaraan ini sudah berubah.

“Ngapain bingung, itu didepan mu itu aja banyak cewek cantik”, sambil menunjuk ke arah seorang mahasiswa dan pegawai hotel, aku pun malu dibuatnya.

“Hahaha..yang biasa aja sih pak, ga neko – neko”, jawab polos dan kami pun berdua turut tertawa dalam sedak makanan.

“Nyari istri itu yang pinter, bisa ngurus kerjaan kantor, ngurus dapur buat suami sama anak, cari yang selera musiknya Bethoven, Mozart, musik klasik lah yang jelas, justru cewek yang kayak gitu yang berkelas, bukannya kayak cewek sekarang yang cuma bisa ngedempul pipinya sampe tebel..hahaha”, tertawalah kami berdua dalam keramaian, sampai seorang teman heran, apa yang terjadi antara aku dengan seorang bapak gemuk tua itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: