2 menit yang biarlah berlalu (part 1).

Pagi ku sadar hari ini tak kan cerah, selalu dilimuti awan gelisah. Ketika matahari nanti berada di puncaknya tiba saatnya adrenalin ku entah berada dimana posisinya. Decak darah rendah pun merona abu hitam tampak tak jelas warnanya melekat dikelopak mata ku, tanda ketiadaan waktu tuk tertidur pulas, entah apa yang ku nantikan padahal sikap optimis ini menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Pukul 12.05, matahari masih tak menunjukkan tajinya, melirik jam tangan yang makin kotor pergelangannya, kesana kemari bagai orang yang tak punya tujuan. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu dalam canda obrolan teman – teman ku, sejenak melupakan apa yang kunantikan dan berusaha tak punya janji hari itu jua.

Resah, menatap layar handphone yang tak kunjung berdering menanti pesan yang kiranya berisi “aku sudah ada ditempat”, tempat yang ia janjikan tuk bertemu, memberi sejuta pesan tersirat dalam buah tangan yang kubawa dari tanah orang yang kunjung tak berpemilik. Kesana kemari, sapa acuh adalah pekerjaan baru ku dalam menunggu, sampai kesal hati ini berkata “lebih baik menunggu kiamat daripada menunggu kehadiran mu!”, darah tinggi ini pun sedikit demi sedikit memuncak dan ku putuskan tuk pulang.

Sebuah kaos oblong bertuliskan “I Love Djogja” dan sebatang coklat yang bertuliskan aneh “Silverqueen”. Entah kenapa coklat itu bernama “Silverqueen”, pasti ada sesuatu dibalik itu dan aku menebak tahu apa. Jadi, tadinya si empunya produk melakukan¬† penelitian tentang coklat dan kebanyakan coklat itu cocok untuk wanita, karena beberapa dan lain hal, yang harus memberikannya adalah seorang pria yang mengaguminya dan karena saking kagumnya pada wanita itu, ia dianggap sebagai “putri”. Lalu muncul lah produk coklat batang yang bermerk “Silverqueen”, entah apa seraya masih menebak kata “silver” yang tertera, berasumsi.

Kepala ku terbenam dalam hangatnya bantal, menunjukkan secuil kekecewaan ku dan tiba – tiba handphone usang itu berdering, tanda pesan singkat masuk, berharap handphone itu berpikiran sama dengan ku.

“maaf, ga jadi kesana..”, isi pesan singkat

Dan benar – benar terlalu amat singkat untuk menghargai 2 jam waktu ku berlumut menungggu, sungguh terlalu. Tapi tak apa daripada buah tangan ini benar – benar jadi tak berpemilik, kecewa.

“Ya sudah, saya yang kesana..”, balas pesan ku.

Berjaket merah terang, geofisika kebanggan ku melekat ditubuh. Tak peduli apa komentarnya tentang penampilan ku nanti meski beralaskan sendal jepit yang dinjak – injak kaki kusam kering terbakar matahari.

600 meter, ku melambatkan laju motor. Berkaca dan mengambil sebuah permen dari saku, berharap mood ku membaik.

100 meter, kembali memperlambat kendaraan. Menyiapkan kata – kata yang sekiranya akan diperbincangkan, mulai menyusun kalimat baku dari pembukaan hingga penutup, layaknya seseorang yang kan berpidato di depan orang banyak, padahal hanya satu orang yang kan kuhadapi, makhluk yang misterius dan sulit ditebak. Sirene peperangan pun menyentak jantung, derap berderap dalam degupan berharap tak berkucurnya keringat dingin.

“Saya sudah sampai didepan.” terkirim pesan sms ku.

“Dimana?”

“Dekat jalan besar.”

Satu, dua, tiga…bisik ku berhitung dalam hati sembari menunggu (lagi). Kembali ku mengingat – ingat kata apa yang kan kulontarkan pertama kali ketika berpapasan dengannya, mengusap -usap muka ku yang hampir semuanya tertutupi debu.

2 responses to this post.

  1. Posted by d.i.p on November 30, 2009 at 22:38

    2 menit terinspirasi dari kisah Keena dan Kugy kah?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: