Sandiwara

Ia melantunkan kepul asap itu ke udara dan tak ada yang segan untuk menghalanginya. Tersiku lengannya di atas meja dengan jemari yang dipaksa mengapit sebatang candu. Diangkatnya segelas kopi hangat, tapi tak kunjung ia meminumnya. Terlalu panas, gelagatnya.

Kedepan tatapannya, kosong. Ia pun segeramemulai perbincangan dengan akalnya, jiwa turut merambat naik dan segera bersanding duduk bersama, tak ada yang rela menengahi mereka. Semua begitu nyata, terkecuali untuk kepalsuan yang ada pada khayal.

 

Gambar : teen488.blogspot.com

Samar – samar apa yang sudah diketahuinya sejak lama, seketika ia pun tenggelam dalam pergulatan yang sengit. Kini ia menjadi penonton yang sopan ketika dua itu berdebat, terduduk manis ia dengan raut wajah yang mendayu dan mendayung emosi. Seketika ia tak lagi berpegang kepada mereka, ia hanya berdoa dan semoga Tuhan adalah segala – galanya dalam harapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: